Please...

Dear Viewers,
I shared my stories, my flash fiction, or my flash true story.
So, please do not copy what is written here. If you want to copy, please provide the name of the author and the source.

Don't be a silent reader, please!
Tinggalkan jejakmu disini ^^

Thanks ^^
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

Sang Penginspirasi


Sang Penginspirasi
Untuk seseorang yang telah menjadi inspirasiku...
Taukah kamu, bahwa aku telah memperhatikanmu sejak pertama kali kita masuk SMA? Bahwa aku memperhatikanmu lebih dari pelajaran apapun... Bahwa aku menginginkanmu lebih dari apapun?
            Sang Penginspirasiku, ini aku—seseorang yang telah mencintaimu lebih dari dua tahun. Ingat? Jawabnya singkat : ya. Tentu kau mengingatku bukan? Aku—Si gadis bodoh yang kekanakan.  Kita teman sekelas saat di kelas satu—kelas X-1.
            Aku ingat, betapa konyolnya aku dulu. Demi mendapat perhatianmu, aku melakukan berbagai hal. Mencoba mengajakmu berbicara, ribut dengan teman saat pelajaran, atau bahkan menjadikanmu sebagai bahan lawakan. Tetapi aku hanya mendapat senyuman maut itu.
            Tapi, itu cukup buatku.
            “Heii, tang! Coba deh tanya nyokap lo, lo dikasih nama ‘Bintang’ pasti karena loe gelap kan? hehehe.” aku setengah berteriak dari tempat dudukku. Hari itu aku menggodai temanku—Bintang yang sedang duduk di dekat dengan Si Inspirasi.  Sedikit banyak pastinya aku akan mendapat perhatiannya.
            “Kecut! Loe ngeledek gue?”                                                 
            “Nggak kok, gue cuma nanya. Abis kayaknya loe keberatan nama.”
            Sesisi kelas tertawa, menyetujui banyolanku karena Bintang memang hitam. Sepintas kulihat Si Inspirasi menoleh kearahku dan tersenyum. Aku tahu, ia menyetujuiku juga, sama seperti yang lain.
            Sang Penginspirasiku, kumohon, lihatlah aku—seseorang yang telah menunggumu sepanjang waktu. Menantimu di gerbang sekolah hanya agar kita dapat melewatinya bersama. Tetapi, jika kau telah mendahuluiku, aku akan berlari dibelakangmu...
            Aku cukup senang dengan hal itu. Karena dengan begitu, secara tidak langsung kita sudah pulang bersama bukan?
            Sang Penginspirasiku, jangan pergi, tetaplah disini, dan mendekatlah. Aku lelah mengejarmu. Kini, biarkan aku berhenti sejenak dan duduk menantimu
            Ingin aku mendapatimu menoleh dan menjemputku disini—di tengah jalan menuju impianku. Meski aku tau—sangat tau—itu tidak akan pernah terjadi.
Aku ingat, dulu saat pelajaran Bahasa Indonesia, saat kau membuat kalimat motivasi untukmu sendiri dan membacakannya di depan kelas, kau bilang bahwa ‘nothing impossible’ tapi, untuk yang satu ini, aku tau dan sangat yakin, bahwa ada sesuatu yang tidak mungkin—dirimu.
Sang Penginspirasiku, lihatkah kamu saat aku menunggumu di depan gerbang sekolah setiap paginya, hanya untuk melewatinya bersamamu? Setiap pagi, aku berangkat lebih pagi dari yang lainnya hanya untuk menunggumu disana. Karena hanya dengan begitu kita bisa berangkat sekolah bersama.
Dengan itu juga aku tau, kau akan sampai disekolah pukul tujuh kurang lima belas menit. Dan, secara tidak langsung juga, aku mengetahui kebiasaan-kebiasaanmu yang lainnya saat aku memperhatikanmu dari kejauhan.
“Pagiii...” aku mendapati diriku menyapanya dulu. Dia yang sedang berjalan melewati gerbang, menoleh kearahku.
Astaga, senyuman itu lagi!!
            “Pagi, classmate!
Aku cukup senang. Ya, setidaknya ia mengingatku sebagai teman sekelasnya... Ini sudah kemajuan yang sangat luar biasa untuk hubungan kami. ‘Kami’? Stop it, Pauw! Berhenti membayangkannya, karena dia tidak mungkin tergapai!

Sang Penginspirasiku, mengertikah kamu, bahwa rasa ini sulit untuk ditepiskan? Meski berbagai cara telah kulakukan untuk mengingkarinya. Tetapi selalu saja gagal. Karena hati ini telah menentukan pemiliknya.
Sang Penginspirasi... kaulah pemenang atas hatiku. Kau menawarkan pesona yang sulit untuk kutolak. Kau bagaikan matahari yang menghangatkan pagiku, kau seperti asupan gizi yang kubutuhkan, dan kau adalah inspirasiku.
Sang Penginspirasku, kaulah motivasiku untuk berangkat kesekolah. Kau adalah segala tenaga yang kupunya. Dan kau membuatku bahagia dengan ini semua, dengan cara-caramu menangkap basahku yang sedang memperhatikanmu.
            Sang Penginspirasiku... andai kau tau, kaulah yang telah mendorongku mencapai titik ini. Titik dimana aku akan menemukan masa depanku. Kau yang telah menggerakan jemari ini untuk mengukir kisah diantara kita. Karena kau adalah inspirasiku— begitu banyak dan selalu ada dalam otakku.
            Tapi, kini dimana dirimu? Aku lelah menantimu di pintu gerbang, aku lelah melihat punggungmu yang menjauh, dan aku lelah dengan segala cara yang kulakukan untuk mendapat perhatianmu. Aku muak. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang wanita...
            Sang Penginspirasi, jemput aku. Aku tersesat dalam perjalananku menemukanmu. Aku ingin kau menemukanku disini yang tenggelam dalam pesonamu. Inspirasi, tak pernah berhenti kubertanya kapan penantian ini akan berakhir?
            Inspirasi, kau tak pernah tau aku selalu menunggu hari raya hanya untuk sekedar mengirimimu pesan. Kau juga tak pernah tau aku selalu mencari-cari alasan yang tak masuk akal hanya untuk mengirimu pesan. Dan bodohnya aku, aku selalu menunggumu mengirimiku pesan, meski itu hanya salah kirim atau pesan berantai. Aku tetap menunggu...
            Sampai akhirnya, hari itu aku memberanikan diri untuk mengrimimu pesan terlebih dahulu. Hari itu adalah hari ulang tahunmu.
            Happy birthday... wish you all the best ya!
            Thanks pauw :D
            Bisa dibilang aku lupa daratan. Aku melompat kegirangan, melupakan sekelilingku yang mungkin saja terganggu dengan sikapku itu.
            Kuambil ponselku, mengetik pesan untuk sahabatku.
            Hari ini ‘dia’ ulang tahun. Aku kirimi dia pesan. Setelah sekian lama, akhirnya dia bales, tapi cuma bilang ‘thanks pauw!’ T.T
            Sekitar lima menit kemudian ponselku kembali bergetar. Ada satu pesan masuk. Inspirasi!
            Lha? Salah toh? Mintanya apa?
            Aku yang lemah otak mencoba membaca kembali conversation kami di ponselku. Dan TERNYATA pesan singkat yang seharusnya aku kirim untuk sahabatku malah aku kirim untuknya.
            Aku yang belum bisa mengembalikan diri, memutuskan untuk membalasnya seperti ini :
            Lha iya, di ucapin kok cuma gitu balesannya J
            Hatiku ketar-ketir, takut ia mengetahui perasaanku. Tubuhku melemas saking terkejutnya. Tuhan... jangan biarkan dia tau perasaanku. Jangan sampai. Biarkan aku saja yang menanggung rasa ini.
            Beberapa saat kemudian, ponselku bergetar kembali, membangunkanku dari lamunanku tetangnya.
            Wkwkwk...wahh mencurigakan :p
            Tuhan, bolehkah aku sedikit berharap??

˟˟˟
            Setelah sekian lama berdiam diri, aku mulai menuang kisah-kisahku dalam organizerku. Karena takut akan kakak laki-lakiku yang suka mengobrak-abrik isi kamarku, aku samarkan diaryku dengan kumpulan-kumpulan cerpen. Salah satunya kisah ini, yang termasuk  isi diaryku yang terbaru.
Sang Penginspirasiku, mungkin aku gila dengan menulis kisah ini dan membiarkan ratusan bahkan jutaan orang mengetahui rasaku—yang kau sendiri tidak tau.  Aku sengaja tidak memberitahumu, karena awalnya kupikir, rasa ini hanya sesaat. Tapi nyatanya, rasa ini tertanam kuat dalam sini, dihatiku.
            Inspirasiku, satu hal yang kuyakini—aku mencintaimu. Bukan rasa yang dirasakan puluhan siswi lainnya, tapi ini rasa yang berbeda, rasa yang istimewa. Hanya dariku dan hanya untukmu. Inspirasiku, jangan biarkan rasa ini keluar dari tempatnya. Biarkan berkembang menjadi sesuatu yang lebih kompleks dan diyakini semua orang.
            Inspirasi, tak pernah lelah kubertanya pada diriku sendiri— kapankah hubungan ini berubah menjadi suatu yang nyata? Aku lelah dengan segala asumsiku akan dirimu. Aku ingin nyata...
            “Aku lelah...biarkan aku berhenti untuk sejenak—menunggumu disini—yang takkan pernah menjemputku”
            Andai aku dapat menutup jurang itu dengan segala cara yang telah kulakukan ; andai kau benar-benar melihatku, andai aku bisa mengutarakannya ; dan andai kau membalas rasaku. Rangkaian kalimat itu bagai mantra yang selalu kuucap disetiap tidur malamku.
            Inspirasiku... aku lelah menyebut namamu disetiap doaku. Aku lelah mengharapkanmu disini. Aku lelah menunggumu. Dan, aku lelah menyebut namamu, karena kau tak pernah menoleh.
            Inspirasi, akankah ada akhir yang bahagia bagi kisah ini?
            Ketika aku melupakan segalanya—melupakan kodratku sebagai seorang wanita, dan mungkin juga rasa maluku sudah terputus sejak pertama kali aku mencintaimu, aku datang kehadapanmu kala itu—sore hari di sekolah yang sepi, dan  aku menyatakannya.
            Inspirasi, akankah cinta ini berlabuh pada dermaga yang indah?
            Meski aku tau, cinta tak mesti memiliki, tapi, ijinkan aku memilikinya...
            Aku berjalan mendekat ke ruang XII IPA3—kelas barumu. Samar-samar kudengar suara tawa didalam sana. Dan selangkah lagi, aku dapat melihatmu didalam sana. Tapi, bukan itu yang terjadi. Aku melihat ada orang lain disana—seorang gadis yang sedang bercanda denganmu dengan memegang buku Fisika dan duduk di seberangmu.
            Aku tutup daun pintu yang membatasiku dengan mereka. Sepintas, kulihat inspirasi tersenyum samar kepadaku.
            Inpirasi, kau benar, cinta tak mesti memiliki...


˟˟˟




Biodata Penulis :

Memiliki nama pena APAUW dan bernama asli MENSISKA JOHANA SUSWANTO. Gadis kelahiran Tegal, 27 april 1995 ini jatuh cinta pada dunia tulis-menulis sejak empat tahun yang lalu. Ia sangat menyukai dunia acting dan dapur. Dan ia bermimpi, masa depannya bisa seindah pelangi.

apauw dapat di hubungi di :                          
Facebook         : Mensiska Johana Suswanto
Twitter            : @missyoe2
            

Selasa, 11 September 2012

First Love Nothing Last Forever


cerpen ini, bukan cerpen terbaruku atau bahkan cerpen terbaikku. ini terbukti dengan gagalnya cerpen ini di salah satu lomba ^^

Dan, aku pikir ada baiknya jika aku share ke kalian semua.. biar aku tau kekuranganku ^^
So...
beri jejakmu yaa dengan LIKE atau COMMENT ^^
supaya aku tau kesalahanku...

Gamsahamninda~


First Love Nothing Last Forever...
Oleh : missyoe

Ini bukan yang pertama kalinya aku melihatnya... Lama-kelamaan tumbuh suatu suatu rasa yang membuat hatiku terasa hangat. Tetapi, terkadang merasa menyejukkan. Orang bilang, rasa ini cinta...
            Tak pernah terbesit di otakku, rasa ini akan jatuh kepada orang yang menurutku takkan pernah tergapai. Dia, adalah bintang yang takkan pernah kugapai.
            Aku, bagai bulan diantara bintang. Mereka memiliki sinarnya. Sedangkan aku? Aku hanya mengambil cahaya matahari dan berusaha menunjukkan diriku diantara kegelapan. Dan, aku takkan mampu bersanding dengan bintang!
           
YYY

            “Aku rasa sebaiknya kau ungkapkan rasamu itu kepadanya.” Nasihat Lolita ketika kami sedang duduk menikmati kopi kami di sebuah kafe langganan kami.
            “Hmm, aku rasa tidak semudah itu, Loli...” aku menyesap kopiku dalam-dalam. Cuaca sedang sangat dingin, memang paling pas untuk minum kopi.
            “Tapi dengan begitu kau akan merasa lebih baik, dan semuanya juga akan terasa lebih baik. Dan mungkin saja itu bisa mengubah persepsimu tentang cinta pertamamu, kalau kau tidak bisa menggapai “bintangmu” itu.”
            Diam-diam aku menyimpan baik-baik perkataan Loli dalam hati. Dan, yah, sedikit banyak aku sudah mengubah keputusanku. Ya, mungkin aku memang harus mengungkapkannya.
            Tanpa sadar aku menggebrak meja, “Aku pergi dulu.” Kataku sembari bangkit dari kursi dan menginggalkan Loli dan panggilan-panggilannya.

YYY

            Kakiku bergerak cepat menuju Alicia’s School—sebuah sekolah bertaraf internasional, berbasis komputerisasi, dan dengan seragam yang sangat disukai : bebas!
            Aku memperlambat kakiku ketika melewati kerumunan orang disekitar majalah dinding. Aku mengalihkan perhatianku ke papan hitam itu. Sebuah poster bergambar seorang pria sedang tersenyum memegang medali emas. Ya, itu dia, bintang dihatiku.
            Dan, “dia” juga alasanku kembali ke sekolah di hari yang sudah siang ini. Aku akan mengungkapkan rasaku ini. Mungkin ini memang ide tergila yang pernah terbesit di kepalaku. Tapi, kembali ke nasihat Loli, semuanya akan menjadi lebih baik. Meskipun aku tidak mendapatkan jawaban yang aku inginkan nantinya.
            Ya, sebaris kalimat itulah yang mendorongku berdiri di tengah lapangan, mencari sosoknya yang sebenarnya sangat eye catching.
            Dan, kemudian kulihat “dia” disana. Tersenyum menggandeng tangan—yang sudah jelas bukan tanganku—dengan begitu erat.
            Seketika itu aku tahu, aku telah kehilangan—walaupun sebenarnya aku memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk mendekatinya.

            Aku sadar, cinta ini, bagaikan dua garis sejajar yang tidak akan pernah menemukan titik untuk bertemu. Aku, takkan pernah bisa menggapai bintang. Tapi, jika saatnya tiba, akan kukepakkan sayapku untuk menggapai bintang.

YYY

            7 tahun kemudian...
            Ini kepulangan pertamaku setelah 7 tahun lulus SMA. Aku berniat mengunjungi Alicia’s School. Sekedar bernostalgia dengan masa lalu, dengan “bintang” dihatiku...
           
            Suasana sekitar AS tidak jauh berbeda dengan saat kutinggalkan. Aku menikmatinya, karena itu semua mengingtkanku akan masa-masa terindah, masa-masa dimana kau pertama merasakan perasaan...
            Aku tersentak kaget ketika seseorang keluar dari sebuah outlet dan melihat “bintang”ku baru saja keluar dari sana. Chris. Dia melihatku. Tidak. Lebih tepatnya dia menatapku. Sedetik kemudian dia menarik ujung bibirnya membentuk seutas senyum yang tidak pernah kulihat—setidaknya hanya untukku.
            “Kau alumni AS, bukan?”astaga, apa benar ia berbicara denganku—sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa kuimpikan.
            “Sepertinya dulu aku pernah melihatmu. Katakan,  apa aku salah?” Ia tetap tidak meninggalkan senyumnya. Membuatku terdiam, menikmatinya. “Diam, berarti benar.” Ia memberi jawaban atas pertanyaannya sendiri. Senyumnya semakin mengembang.
            Aku tersenyum. Dan, kalau aku tidak salah, itu membuatnya menjadi salah tingkah. Benarkah?
            Kemudian, semuanya berjalan begitu saja. Ia mengajakku ke AS yang memang sebenarnya adalah tujuanku. Dan, dari perjalanan singkat itulah aku tahu bahwa saat ini dia sudah menjadi arsitek. Sebuah kebanggaan muncul dibenakku karena mencitai seseorang yang begitu hebat.
            Dan, dia juga berkata betapa seringnya ia melihatku sedang menulis di taman. Aku senang, ternyata ia memperhatikanku. Ataukah, ini hanya perasaanku saja? Bolehkan aku berharap?

YYY

            Esoknya aku bertemu dengan Loli di sebuah kafe langganan kami saat SMA dulu. Aku benar-benar tidak menyangka, dia sekarang adalah pemilik kafe itu. Ia mengatakan betapa sering ia kesana, bahkan setelah kami lulus. Dan, akhirnya ia memutuskan untuk membelinya
            Aku memesan cukup banyak setelah ia mengatakan akan memeberi gratis atas pesanan-pesananku.


            “Hey, kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan!” Ungkapnya menyadari aku memanfaatkan kesempatan emas ini.
            “Oh, ayolah... Anggap saja ini adalah hadiah untukku karena sudah menjadi penulis. Hahahahaha....” aku tertawa manyadari kejahilanku.
            “Yaa, kau sudah menjadi penulis? Pantas saja, aku sepertinya pernah melihat artikelmu. Tapi tidak aku baca, karena aku pikit itu bukan dirimu.” Ia berkata menggebu-gebu. “Hey, kau harus mentraktirku!”
            “Baiklah...baiklah...lain kali. Tapi yang pasti bukan disini.”
            “Ah tidak! Aku hanya bercanda. Lupakan...” tiba-tiba ia tersenyum dan sedetik kemudian memekik, membuatku kaget dan beberapa pelanggannya menatap kami heran.
            Setalah memberi isyarat pada meraka bahwa kami baik-baik saja, ia mulai bercerita. “Kau tau, sekitar seminggu yang lalu aku bertemu dengan “bintang”mu itu.” Katanya menggebu-gebu.
            Aku hanya tersenyum geli mengingat bahwa baru kemarin aku bertemu denannya. “Kemarin—baru saja kemarin—aku bertemu dengannya. Kami bertemu di ujung jalan sana,” aku menunjuk ujung jalan di luar sana.
            “Dia mengajakku ke AS. Kami menghabiskan waktu bersama selama disana. “ aku berhenti dan tersenyum dan mengingat hari itu.
            Loli tersenyum mendengar penjelasanku. “Aku rasa hari itu harus diulang.” Dia tersenyum penuh arti.

YYY

            Aku rasa ini memang yang aku tunggu-tunggu saat kami bertemu untuk yang kedua kalinya beberapa hari lalu dan ia mengajakku untuk bertemu lagi. Dan, terjadilah hari ini.
            Kami duduk disalah satu meja di sebuah kafe di tengah kota. Desainya minimalis dengan bunga lili sebagai dasarnya. Sebuah lagu dari Cho Kyuhyun-Seven years menemani kami.
            “Ini mungkin sesuatu yang mendadak. Tidak. Ralat, maksudku sangat mendadak. Dan mengejutkan, karena aku juga tidak pernah memikirkan ini sebelumnya,” ia menggaruk-garuk kepalanya. Entah mengapa, tingkah lakunya itu terkesan salah tingkah dimataku. Tapi, benarkah seorang bintang dari AS bisa salah tingkah di depan seseorang sepertiku?
            Aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan, sehingga aku memilih untuk diam. Sementara ia terlihat bingung mencari kata yang tepat untuk mengatakan sesuatu yang sepertinya membuatnya kesulitan.
            “Hm, aku rasa aku ingin memulai sesuatu yang lebih jauh dengamu. Aku ingin kita bisa bersama...” ia berhenti sejenak. “Ah, aduh, aku bukan orang yang pintar merangkai kata sepertimu.”
            Mukanya memerah, matanya tak fokus. “Aku rasa kau tau maksudku.” Dia mulai menatapku. Aku menunduk.
            Tidak. Ini bukan bintang yang bersinar itu. Ini bukan Chris yang aku suka. Karena Chris yang aku suka, adalah seseorang yang bahkan tidak mengatahui namaku. Tidak akan duduk didepanku dan bahkan salah tingkah karenaku.
            Tidak. Entah mengapa aku tidak merasakan getaran-getaran halus ditubuhku. Tidak ada reaksi apapun untuk merespon perkatannya. Dan, aku sadar, ini bukan 7 tahun yang lalu saat aku benar-benar menyukainya—bahkan mencintainya. Ini adalah 7 tahun setelahnya. Saat semuanya sudah berlalu, dan aku terbiasa tanpanya.
            Aku mengangkat kepalaku. Kepalaku terasa pening. Matanya menatap lurus kemataku. “Emm, hanya satu kata yang aku katakan, jadi dengarkan baik-baik.”
            “Hari ini tidaklah sama dengan tujuh tahun yang lalu...” aku tak berani menatap matanya.
 Mendengar perkataanku, ia tertawa, sebelah tangannya menutupi sebagian wajahnya yang memerah. Membuatku bingung setengah mati mengingat baru saja aku menolaknya.
            “Kau tau, siapa sutradara dibalik semua ini?” aku tak memahami ucapannya. “Lolita. Loli, dia sahabatmu kan? Sekitar dua minggu yang lalu kami bertemu. Dia mengatakan semuanya padaku.” Lagi, ia tersenyum pahit.
            “Semuanya?”
            “Ya, semuanya. Tentang perasaanmu, tetang mimpi-mimpimu.”
            “Ta...tapi, apa maksudnya?” aku mulai emosi. Apa maksudnya ini? Mengapa Loli melakukan ini padaku?
            “Tunggu, kau jangan salah paham. Ia hanya ingin kau sadar, bahwa saat ini tidak sama dengan tujuh tahun yang lalu, persis sepeti jawabanmu. Dan kurasa caranya itu benar-benar tepat.” Ia ternyum sangat manis.

            “Yah, maafkan aku kalau caraku membuatmu tak suka.” Kata Loli saat kami bertemu setelah acara ‘penembakkan’ itu. Kami duduk di kafe miliknya.
            “Tidak, tidak. Kau benar-benar hebat. Kalau kau tidak melakukan ini, kurasa aku akan terbayang-bayang olehnya seumur hidupku.Tapi, sejujurnya aku sedikit tidak enak pada Chris.”
Ia tersenyum. “Aku hanya membantumu keluar dari cinta pertamamu yang terus membayangimu. Hey, kurasa itu karena kau tidak pernah bertemu degnan pria yang lebih dari Chris. Dan masalah Chris, dia sendiri yang menawakan dirinya untuk membantu.”
            “Ah, benarkah? Aku lega mendengarnya. Dan, Loli, kau tahu? Aku tersadar akan satu hal,” Loli menatapku seakan ingin tahu. “...bahwa first love nothing last forever.”

YYY
           
           

Jumat, 25 Mei 2012

Kesalahan Yang Sama



¯  Dulu memang aku pernah salah
Dan semuanya t'lah ku lakukan
Namun bukan berarti hidup dan cintaku
Tak tertuju padamu
Saat ini sejenak dengarkanlah sayang
Semua itu hanya perjalanan
Dan mungkin aku akan terjatuh lagi
Di kesalahan yang sama
¯

[Kesalahan Yang Sama_Kerispatih]

TTT

Aku duduk tertunduk. Kedua tanganku tertumpu pada lutut, telapak tanganku meremas rambutku dengan kencang—berharap semuanya ‘kan baik-baik saja dengan itu.
            Shia—gadisku, juga tertunduk di sofa seberangku. Kedua tangannya saling meremas. Bisa kulihat tangannya berkeringat dingin.
            Aku tahu, kesalahan ada padaku. Aku telah menyakitinya untuk kedua kalinya. Aku yang membuat api diantara kita. Dan aku juga yang harus memadamkannya.
            Aku yang memosisikan kita di ujung jalan, maka akulah yang harus mengembalikan ‘kita’ ketempat semula. Mungkin dengan air yang ‘kan memadamkan amarah kita, atau, mungkin juga dengan seiring berjalannya waktu, kau bisa memaafkanku.
            Apapun itu, aku akan berusaha mendapatkanmu kembali—seutuhnya dirimu. Dan untuk seterusnya, aku yang akan merawat dan menjaga hubungan ini. Aku berjanji...

TTT

Tapi,  semuanya tak berjalan sesuai harapan. Semuanya tidak sejalan dengan apa yang telah aku gariskan untuk kedepannya. Aku telah melewati hal-hal terindah dalam hidupku—ya, melewati hari-hari bersamanya adalah hal terindah dalam hidupku. Dan parahnya, aku melakukan itu sebanyak dua kali!
            Aku tahu, luka itu begitu dalam. Sampai kata ‘maaf’ mungkin tidak bisa menyembuhkannya. Dan waktu mungkin belum tentu bisa mengembalikannya seperti semula—aku telah mengkhianati cinta yang telah tiga tahun kami rajut, merangkai satu persatu perasaan kami.
Kini, semuanya hancur—rusak begitu saja. Sesuatu yang semula kuanggap sepele, namun berdampak fatal! Andai, ada cinta yang baru—bukan dengan insan yang baru, tapi dengan perasaan kita masing-masing.
Kemudian aku mengangkat kepalaku, berharap perubahan yang mendasar telah terjadi pada wajah gadisku. Dan kutatap matanya. Kita mulailah dari awal.
Merangkai lagi satu per satu cerita cinta kita dengan cinta dan cerita yang baru. Lupakanlah kemarin, aku telah menyakitimu, dan aku tahu, itu sakit buatmu. Maaf... Tapi kemarilah... kembali padaku yang telah menjanjikan cerita yang baru diantara kita...
Aku menatap matanya, dalam. Berusaha merasuk kedalam hatinya, merasakan sakit yang ia rasakan, mengurainya, dan mencoba membaginya dengannku.
Dan, sampai akhirnya aku tahu, aku tahu sesuatu yang telah kau pendam sejak pertama kali aku melakukan kesalahanku—kau ingin berpisah denganku.
Seharusnya aku tahu. Seharusnya aku tahu sejak pertama kali aku mengkhianatimu, aku sudah tidak pantas lagi buatmu. Harusnya setelah hari ini, aku sudah harus menyerah akan dirimu.
Tapi, aku tidak bisa terima ini. Sebagian dari diriku berkata bahwa aku tidak bisa meninggalkan dirimu. Tetapi, malah kau yang akan meninggalkanku. Ini benar-benar tidak adil!
Ayolah, aku tahu. Luka yang aku torehkan padamu memang begitu dalam. Dan sulit bagimu untuk memaafkanku.Tapi, tidak bisakah kau lupakan itu, barang sejenak, dan mengembalikanku ketempat semula—di hatimu.
Dulu, aku yang selalu menempati posisi istimewa didalam sana. Begitu lama, sampai pada akhirnya terjadi luka yang pertama. Dan aku yakin, tidak semudah itu bagimu mengusirku dari tempat istimewaku. Butuh waktu yang lama, dan luka yang mendalam untuk itu.
Maka dari itu, lupakanlah ucapanmu tadi, aku bisa berpura-pura tidak mendengarnya, dan anggap tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita : luka itu, ucapan itu, dan juga pihak ketiga itu. Dan, setelah itu hubungan kita akan kembali seperti semula. Ya, seperi semula.
Tapi, seperti yang kukatakan tadi, lukamu telah mendalam. Dan ini mungkin telah menjadi keputusan terbaikmu.
Kemudian aku melihatmu berdiri, beranjak dari tempat nyamanmu, berjalan menghampiri pintu apartemenku.
Kau melakukan hal yang sama—sama seperti sejak pertama kali aku melakukan kesalahan yang pertama—kau memegangi daun pintu dan terdiam, ragu dengan keputusanmu. Tapi, kali ini tidak ada sirat keraguan dimatamu. Kau hanya menggeleng kepalamu pelang, pertanda bahwa kau menolak permintaanku.
Dan, didetik berikutnya, baru kusadari, kau sudah pergi meninggalkanku bersama kenangan-kenangan manis kita ; bersama janji yang baru kuucap.
Sia-sia...

[Johana Yoe]

Jumat, 09 Maret 2012

Dia Milikku!


FIKSI
Aku jatuh cinta kepada Dani, dan rupanya saudara kembarku juga menyukainya. Sampai akhirnya sebuah rahasia terkuak dan menghacurkan semuanya...
            Kami memulai tahun pertama kami di Universitas. Dia masuk fakultas sastra. Sedangkan aku culinary. Kami sangat akrab, yah, setidaknya tidak seperti anak kembar lainnya. Kami saling membantu, terutama dalam hal sekolah dulu. Dia yang lebih banyak membantuku.
            Seperti yang sudah aku bilang, kami sangat akrab. Selera kami sama. Kecuali dalam hal makanan, dia suka asin, sedangkan aku lebih suka manis. Untuk keseluruhannya, kami banyak samanya. Mulai dari pakaian, film, buku, bahkan cowok. Hal terakhir ini nih, yang jadi masalah.
            Ada satu cowok, Dani namanya. Dia teman sekolah kami. Dia baik, pada semua orang. Aku tekankan SEMUA ORANG! Tapi, boleh dong aku sedikit berharap...? Yah itu yang jadi masalah disini.
            Kami—aku dan saudara kembarku salah mengartikan kata ‘baik’ itu. Meskipun itu hanya sebuah harapan kosong. Kami tetap sama-sama berjuang untuk mendapatkannya. Meski tau itu tidak mungkin.
            Kesimpulannya, aku menyukainya. Begitu  juga dengan saudara kembarku. Sampai suatu ketika kami sama-sama mengetahui perasaan kami masing-masing. Dan terjadi perdebatan kecil antara kami.
            “Sejak kapan loe suka?”
            “Sejak loe suka.”
            “Kenapa loe suka?”
            “Karena loe suka.”
            “Kenapa elo selalu ngikut gue?” aku mulai dongkol. Kenapa jadi gini ceritanya? Benar-benar bukan kisah cinta yang kuharapkan diumurku yang beranjak sembilan belas.
            “Karena menurut gue, kalo kita memiliki selera yang benar-benar sama itu akan benar-benar mengasyikkan.” dia tersenyum-senyum sendiri.
            Arrrgggghhhh... aku hidup dengan seorang pshyco!!!!!
             Kami tetap bersikap sebiasa mungkin. Sebiasa mungkin tapi pada akhrinya dengan sikap yang “sebiasa mungkin” itu lah teman-teman kami tau dan mulai meledek kami karena menyukai orang yang sama.
            Bukan hal yang membanggakan untukku tapi “iya” untuk saudara kembarku. Brrrr... aku geram setengah mati. Mungkin aku akan berhenti menyukainya. Aku tak tahan!
            Keesokkannya aku bangun dengan wajah lelah. Aku hanya berharap sekarang aku bisa melewati hari ini dan seterusnya tanpa ada seteru denga saudara kembarku sendiri apalagi mengenai cowok. Benar-benar kedengaran aneh.
            Aku berusaha tidak punya rasa apapun ketika aku bertemu dengannya. Dia juga bersikap biasa saja. Itu membuatku tenang. Tapi ketenganku mulai terganggu dan diuji ketika segerombolan temanku yang melihat tiba-tiba bersorak-sorai meledek kami—lebih tepatnya meledekku.
            Arrgggghhh... aku lelah dengan semua ini.
            Besok. Besok pasti semuanya akan baik-baik saja. Liat saja nanti. Akan kupastikan itu. Tapi, besoknya, saat perayaan Bulan Bahasa diadakan, sesuatu terjadi menimpaku.
            Sebuah pementasan drama dari kelasku dan kelas Bintang berkomplot meledek kami. Drama itu berjudul “Dia Milikku”. Sial dari judulnya aja udah ketauan maksudnya apa.
           
            Dua orang gadis yang masing-masing memakai dress pink dan hijau tosca sedang berdebat. Mereka memperebutkan sebuah boneka Teddy Bear.
            Sial benar-benar persis! Aku meringis dalam hati. Sial, siapa sih yang nulis naskahnya? Biar gue cekek dia.
            Adegan kedua memeprlihatkan dua orang gadis yang sama, memakai piama yang sama persis. Mereka sedang memperebutkan cokelat.
 Benar-benar hal yang memalukan. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa  dulu aku dan Bintang bisa melakukan itu. Eh, tapi, mereka tau dari mana cerita itu? Yang tau hanya keluagaku. Nggak lebih. Teman dekatku saja tidak tau...
            Adegan ketiga memperlihatkan dua tokoh yang sama. Kali ini salah satu dari mereka berpakaian persis sepertiku hari ini. Sial dia pasti pakai baju Bintang! Tokoh yang satunya lagi memakai baju persis seperti yang dipakai Bintang hari ini. Sudah jelas itu bajuku.
            Mereka jelas sedang membicarakan ‘Dia’. Mati aku. Meskipun satu kampus sudah tau gosip itu, tapi aku pasti akan makin kehilangan muka, mengingat satu sekolah tau, aku bertengkar dengan saudara kembarku sendiri hanya karnea seorang cowok—yang sebenarnya dan sudah jelas sekali—tidak memberikan kami harapan. Kalau iya, mungkin juga itu harapan kosong.
            Arrgggghhhh, aku berjalan tanpa arah dengan sebelah tangan terangkat untuk meutupi wajah. Mengantisipasi agar tidak ada segerombolan anak yang akan mengejekku. Aku lihat dari sudut mataku Bintang sedang di kerumuni beberapa anak. Terdengar samar mereka sedang meledeknya. Hebatnya lagi saudara kembarku itu hanya tersenyum senang.
Disisi lain aku lihat dia juga dalam kondisi yang sama dengan saudara kembarku. Tanpa kumau dia melihat kearahku dan tanpa kupanggil, ia menghampiriku dengan setengah berlari.
“Hai,” ia tersenyum samar. Terlihat sekali ia salah tingkah. Melihatnya seperti itu aku jadi ikut salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tak mungkin gatal karena ia mirip sekali dengan model iklan shampo di teve.
“Hmm, sebenarnya ada yang mau gue omongin sama elo dan saudara kembar loe.”Ia mulai tegang. Kira-kira apa ya yang mau dia omongin sama kita. Jawaban untuk kita berdua?
Jelas bukan. Diantara kami belum ada yang melangkah sejauh itu. Atau mungkin ia ingin mengklarifikasi kesalahpahaman selama ini? Ya, itu yang kurasa paling mendekati kebenaran. Kulihat dia mulai berjalan dan aku mengikutinya dan disusul Bintang. Dan kulihat Clarice, adikku, berjalan memasuki kampus.

Kami duduk berempat mengelilingi meja bundar di kantin kampus. Semua pasang mata tentunya sedang terpusat kepada kami. Bukan hanya mahasiswa dan mahasiswi, tapi juga para penjaga kantin. Jadi gosipnya udah udah sampe ke telinga penjaga kantin nih?
Clarice duduk tepat disebelah Dani. Aku tidak tau dia punya keberanian apa, hingga datang dan duduk tetap disebelahnya.
“Ada satu hal yang perlu aku perjelas disini.” Kudengar dia memulai pembicaraan. Kurenggangkan otot yang daritadi kaku.
“Aku sudah punya pacar.” Kuangkat sedikit kepalaku, kemudian kulihat dia menoleh kearah Clarice. Dan tanpa keterangan selanjutnya, aku tahu. Meraka pacaran.
Seketika wajahku memerah. Sial. Kami berdua—aku dan Bintang—telah dipermalukan dan dikalahkan oleh si kecil Clarice. Adik yang selalu kami banggakan, yang kami jaga dari kecil. Keluarga macan apa ini kakak-adik saling berebut cowok?
            Kami sempat terdiam untuk beberapa saat. Samapi akhirnya Dani beranjak pergi dan kami semua mengikut. “Aku yakin, pasti kau yang memberitahu mereka.” Aku berbicara pada Clarice yang mulai berjalan mengikuti Dani. “Aku sedang membicarakan drama.”
            Dia hanya tersenyum dan beranjak pergi.Aku mendegnaus sebal melihat tingkahnya. Sebentar kemudian dia menoleh kebelakan dan berbicara tanpa suara, dia milikku!

Kamis, 24 Februari 2011

Katakan Cinta Pada Waktunya

Haiiiii
Ini cerpenku yang kesekian....

Kudongahkan kepalaku menatap langit biru. Kuhirup udara disekitarku dalam-dalam, berharap kepenatan ini akan segera hilang setelah melakukannya. Tapi ternyata tidak. Rasa itu tetap membelengguku...

Kuyakinkan hatiku seyakin-yakinnya, bahwa yang kurasakan ini adalah cinta. Cinta yang tak pernah kudapatkan bahkan kurasakan sebelumnya...

Kuyakinkan hatiku seyakin-yakinnya bahwa yang kudengar kemarin adalah pernyataan cinta...
Darinya!

Ingin kuhampiri dirinya. Dan, memeluknya erat. Takkan kulepaskan dia. Takkan kusakiti dia. Aku ingin memilikinya, seutuhnya dirinya...

Aku ingin menerima cintanya. Aku ingin berada disisinya, selamanya. Berharap ini takkan pernah menimpaku... Berharap ini hanya mimpi burukku dan kemudian kutemukan dirinku terjaga dari tidur lelapku.

Tapi akhirnya aku sadar. Ini takkan pernah menjadi sebuah mimpi buruk, karena ini kenyataan...

Kudapati diriku tergeletak, dengan mata terpejam dan berlumur darah...
Kudapati diriku terbujur kaku...
Sekaku hatiku saat ini...

Andaikan ia katakan itu lebih cepat...
Andaikan kujawab cintanya pada waktu itu...
Andaikan cinta dikatakan pada waktu yang tepat...

Aku takkan sesedih ini....


[Johana_yoe]